Berita Terbaru:

Sidang Isbat

OlehEster Pandiangan

Sonya benci Ramadhan! Buat Sonya Ramadhan bukan bulan penuh berkah seperti yang dikata-katakan orang. Bulan hidayah, bulan penuh rahmat dan segala tetek-bengek berbau religius lainnya. Sonya tidak seperti orang kebanyakan yang menanti-nantikan Ramadhan dengan sukacita yang melimpah. Mungkin karena Sonya bukan orang kebanyakan. Sonya tidak seperti anak kecil yang senang Ramadhan karena tawaran menu buka puasa yang bikin air liur menetes. Mungkin karena Sonya bukan anak kecil.

Sonya tidak seperti karyawan atau katakanlah PNS yang tergirang-girang menyambut Ramadhan karena akan dapat gaji ke 13. Yah, mungkin karena Sonya bukan PNS yang kerjanya duduk-duduk, walau hampir separuh waktu kerja Sonya dihabiskan dengan duduk. Tapi setidaknya Sonya benar-benar mengeluarkan keringat untuk mendapatkan gajinya. Soal halal dan haram toh hanya beda dua huruf saja.

Sonya benci Ramadhan karena pada masa itu dia tidak bisa bekerja seperti hari-hari biasa. Seperti bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, September, Oktober, Nopember. Kebanyakan Juli seringnya Agustus dan kadang-kadang September, ketika bulan Ramadhan, bulan yang katanya suci tapi kutukan buat Sonya.

Apa pasal? Sonya miskin penghasilan di situ. Yah, buat pekerja yang modalnya ngangkang, pekerjaan Sonya menjadi haram pada bulan Ramadhan. Padahal entah apa bedanya. Pada bulan yang kata orang Ramadhan itu, tempat-tempat dimana Sonya mendapat penghasilan ditutup. Tidak boleh dibuka. Yah, katanya karena bisnis remang-remang, gelap-gelapan jadi haram.

Tapi, ketika bulan Ramadhan selesai, Sonya bisa bekerja seperti biasa lagi. Bisa ngangkang seperti biasa lagi. Bisa dapat uang seperti biasa lagi. Pokoknya Sonya bisa bekerja seperti biasa lagi. Titik.

Sonya sebal, penghasilannya selama satu bulan itu turun. Memang dia tetap menerima setoran bulanan dari laki-laki separuh baya yang biasa dia panggil Si Papi. Laki-laki dengan bulu memenuhi tubuhnya. Laki-laki berhidung mancung dengan aroma sabun di lehernya. Laki-laki yang menjadi pelanggan tetapnya.

Bukan hanya soal uang saja yang membuat Sonya kesal tetapi kehadiran Si Papi yang akan semakin jarang ketika bulan Ramadhan tiba. Si Papi bakal lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya di Menteng. Menghadiri buka puasa di sana-sini bersama anak yatim. Memperbanyak amal ibadah katanya.

Sahur, buka puasa bersama, tarawih dan hal-hal dengan bau religius lain adalah hal-hal yang tidak mau Sonya pahami. Mungkin bukan tidak mau tapi Sonya memang tidak memahami. Mungkin bukan tidak memahami tapi Sonyanya memang tidak bisa memahami.

Sejak kecil Sonya bermusuhan dengan agama. Agama membuatnya menderita. Ketika dia lahir sebagai nasrani dia disebut aneh karena punya Tuhan tiga. Bahkan teman-teman menakuti dia dengan mengatakan nantinya dia akan jadi kayu api di neraka.

Lagi-lagi agama membuatnya menderita kala dia memutuskan untuk ikut dengan laki-laki yang katanya mencintai dia setengah mampus. Ternyata Sonya dibohongi! Laki-laki itu sudah beristri dan dia dipoligami. Sonya benci agama dan agama membenci Sonya. Buktinya ketika dia jadi lontepun, agama tetap mencecarnya, agama tetap mengejarnya. Menelanjangi dia sampai ke urat tulang, seakan semua yang dia lakukan adalah tercela.

Sonya benci Ramadhan. Membuat dia jauh dari hal-hal yang dia sukai. Uang, seks, bisingnya kelab malam, lampu diskotek yang kerlap-kerlip, aroma minuman keras dan kehadiran Si Papi. Yang keluar cepat tapi Sonya suka.

“Kamu tahu nggak, tempat kita biasa nge-wine bareng Si Papi udah tutup lho, padahal ini baru hari apa???”
Suara keras Peggy memecah lamunan Sonya. Nama sebenarnya Azizah tapi semenjak jadi lonte dia menggantinya menjadi Peggy.
“Mana ada pekcun namanya Azizah?” demikian komentarnya soal pergantian namanya.
“Hei, kamu dengar nggak?” lengan Peggy yang basah oleh keringat menyenggol lengan Sonya. Maklum mereka lagi fitness. Untuk orang-orang dengan profesi tak bermoral seperti mereka wajib memerhatikan badan.

Fisik itu yang utama. Semua harus tampil kinclong. Bentuk badan yang aduhai, bohai atau apapun istilahnya yang menggambarkan lekuk tubuh seksi seorang perempuan. Tidak hanya luluran, fitness, aeorobik, kegel bahkan sebagian mereka tak segan melakukan labioplasty, vaginoplasty, piercing—supaya memikat klien, pun mentato organ intimnya. Seperti Peggy yang mentato kupu-kupu tepat di atas anunya. “Kan cantik…hihihi…” Peggy tertawa genit.
“Memang puasa kapan sih”
Lagi-lagi Peggy mengusik Sonya.
“Aku nggak tahu, ada yang bilang Kamis, ada yang bilang Jumat, ada juga yang bilang Sabtu….” jawab Sonya sekenanya.
Dia benar-benar tak mau berdiskusi hari ini. Di kalangan teman-teman, Peggy memang terkenal suka mengajukan banyak pertanyaan. Sampai-sampai lawan bicaranya jengah. Karena dia selalu bertanya ini itu ini itu.
“Walah, kok repot gitu ya? Kok bisa beda-beda ya? Jadi bener yang mana?” Peggy  merepet seperti knalpot motor tua.
“Yah, kan beda-beda, Islam itu ada banyak aliran, jadinya menentukan hari pertama puasa pun berbeda…” kata Sonya lagi.
“Lha, kok bisa gitu ya? Bukannya Islam, ya Islam?”
“Yah, sama seperti Kristen, ada HKBP, kharismatik..”
“Kamu kok tahu? Memangnya agamamu apa?”
“Aku nggak beragama. Kamu sendiri?” Sonya balik bertanya pada Peggy.
“Hihihi…agamaku ini,” Peggy menunjuk alat kelaminnya, “ini yang bisa ngasih aku makan..” katanya cekakak-cekikik. Mau tak mau Sonya tersenyum.
“Kamu ini dari tadi ngeliatin tivi, melototin apa sih? Nggak treadmill-an kamu?”
“Nggak, nanti aja..”
“Nontonin apa?” Peggy penasaran dan ikut nongkrong di muka tivi.
“Ini sidang isbat…penentuan kapan hari pertama puasa dimulai..”
“Oh…”
Sonya dan Peggy tidak begitu memahami apa yang diperdebatkan pria-pria berpeci hitam dan berjas hitam yang tampak di televisi. Muhammadiyah menolak ikut sidang isbat. Mereka sudah menentukan waktunya sendiri. Bahkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin sudah mengeluarkan pernyataan kalau puasa akan dilaksanan 20 Juli 2012. Sedang kementerian agama, ormas islam masih menunggu penampakan bulan untuk tahu kapan 1 Ramadhan.
“Ribet ya orang-orang yang beragama ini…” komentar Peggy saat tayangan selesai.
Sonya hanya mendehem. Menyadari gelagat Sonya yang dari tadi kelihatan tidak bersemangat rasa penasaran Peggy terusik.
“Kamu kenapa sih? Yuk, nge-wine, aku dapat kabar dari Rosa, ada pub di Kemang yang masih buka, Nek…”
“Hmm…” jawab Sonya pendek.
“Ih, nggak asyik banget siiiiiiih…” Peggy manyun, kemudian matanya berbinar, “ajak Si Papi gih…” kata Peggy semangat.
Sonya semakin merengut dan berkata dengan setengah membentak, “Kamu nggak lihat tadi? Papi sibuk sidang isbat!”
Mendengar jawaban Sonya, Peggy tertawa cekakak-cekikik seperti kuntilanak di televisi, “Rempong ya bok punya agama…”
Kopaja, Juli 2012

Jakarta, 19 Juli 2012

17.07 WIB

Chelsea; Kelas Buruh dan Against Modern Football

Chelsea yang kita kenal sekarang sangatlah berbeda dengan Chelsea di tahun 70’ dan 80’an. Di kala itu Chelsea lebih dikenal bukan karena prestasi klubnya, namun karena aksi-aksi brutal hooligannya. Chelsea Headhunters adalah salah satu kelompok hooligan yang sering berbuat ulah saat itu. Bukanlah pemandangan yang aneh ketika itu jika di tengah-tengah pertandingan, para hooligan Chelsea tersebut masuk menyerbu lapangan. Alan Garrison, mantan pemimpin hooligan Chelsea, seperti dikutip Franklin Foer dalam bukunya: How Soccer Explains The World (2004), pernah mengatakan bahwa: dari 10.000 fans yang datang ke Stamford Bridge, 6000 diantaranya datang dengan niat berkelahi. Gerah dengan ulah para hooligan, pemilik Chelsea, Ken Bates, di tahun 1983 bahkan pernah mengusulkan agar pagar di stadion Stamford Bridge dialiri oleh listrik 12 volt agar para hooligan tidak keluar dari tribunnya. Untungnya usul edan ini kemudian ditolak mentah-mentah oleh pihak berwenang di London.

Lingkungan di sekitar Chelsea (London Barat) pada awal 70’an sama sekali tidak menunjukan suasana kosmopolitan dan glamor. Tidak seperti sekarang yang dipenuhi perumahan mewah, perkantoran elit atau restoran-restoran mahal. Stamford Bridge yang ketika itu memiliki jalur balap anjing di sekeliling lapangannya, tidak menunjukan kesan stadion yang mewah. Tak ada kursi tempat duduk, yang ada hanya teras beton belaka yang bisa dijejali ribuan manusia. Stadion penuh gairah inilah yang menjadi saksi keberingasan para Chelsea Headhunters setiap menjamu lawan-lawannya.

Fans Chelsea sebelum tahun 90’an, seperti fans-fans lainnya, menjadi korban dari ketidakbecusan sepakbola Inggris. Sebelum era Premier League, tidak banyak uang yang bisa dihasilkan dari industri sepakbola. Sehingga para pemilik klub membiarkan stadion mereka terbengkalai dan berbahaya untuk ditempati. Akibatnya para fans seolah-olah merasa bahwa nyawa mereka diabaikan dan karena begitu mereka pun rela baku hantam, babak belur, berkelahi dengan para fans lainnya.

Peristiwa di Hillborough yang memakan jiwa 96 fans Liverpool yang sedang menyaksikan pertandingan Liverpool vs Nottingham Forest pada tahun 1989, memaksa pemerintah mewajibkan agar para klub membangun ulang stadion-stadion mereka. Mengganti tribun berdiri dengan kursi, menghilangkan pagar pembatas dan membuat stadion menjadi lebih aman untuk ditempati.

Merombak stadion berarti membuat para pemilik klub harus mencari tambahan dana lewat suntikan para sponsor. Harga tiket mau tidak mau harus dinaikan. Dinaikannya harga tiket ini punya tujuan (1) untuk membantu keuangan klub dan (2) untuk membatasi penonton dari kelas buruh yang dicap sebagai biang kerok dari kerusuhan sepakbola.

Chelsea adalah klub yang paling kentara menerima perubahan-perubahan ini. seperti yang disebut di atas, Chelsea di tahun 80’an adalah klub medioker, yang dekil dan dipenuhi para fans berandalan. Sekarang dengan semakin menjamurnya perkantoran-perkantoran mewah di sekitar Fulham Road, Stamford Bridge, Chelsea seketika berubah menjadi klub yang kosmopolit dan glamor. Para pemain top dari luar seperti Ruud Gullit, Gianfranco Zola, George Weah dan lain-lain didatangkan dengan misi menaikan status Chelsea ke papan atas. Alhasil, trofi Piala FA pun berhasil digondol pada 1997. Setahun kemudian Chelsea berhasil menjuarai Piala Winners & Piala Super Eropa di bawah kepelatihan mantan pemainnya yaitu Gianluca Vialli. Chelsea pun semakin menjadi klub yang glamor tatkala di tahun 2003, Roman Abramovich, raja minyak (bukan si Poltak) dari Rusia membeli sebagian besar saham Chelsea. Para suporter baru dari kalangan orang kaya pun mulai datang ke Stamford Bridge.

Perubahan-perubahan ini tentu saja membawa korban, yaitu fans Chelsea dari kelas buruh yang kesulitan untuk menonton pertandingan akibat mahalnya harga tiket. Para fans ini kemudian gerah kepada pemilik klub yang rela merubah Chelsea menjadi glamor hanya demi keuntungan-keuntungan bisnis semata. Wacana “Against Modern Football” pun kemudian didengungkan oleh sebagian besar fans sepakbola di Eropa yang sudah muak dengan komersialisasi berlebihan dalam dunia sepakbola.

Saya pun jadi sempat menggaungkan “Against Modern Football” ketika melihat mahalnya harga tiket tur Chelsea di Indonesia.
Cih, Against Modern Football.


Penulis: Reza Fajri
Twitter: @rezafajri

Kumpulan Puisi Sonny H. Sayangbati

Kumpulan Puisi-Puisi
Sonny H. Sayangbati
Mei – Juni 2013


Aku Hanyalah Sebuah Wajah


Aku hanyalah sebuah wajah
dari tanah liat
berwarna coklat
seandainya bernafas
itu pun pemberian
karunia Ilahi
Apa yang kupunya ?
semua karunia,
siapalah aku ?
sejenis rumput
bergoyang dihembus angin
sebentar kering dan mati
Aku hanya sebuah wajah
mewarisi ketiadaan
sebentar bergaduh
sebentar pula menguap
bagai asap
menghilang dalam badai angin
siapalah aku
hanya sebuah wajah
sebentar diingat
lalu lupa selamanya
wajah yang sebentar mengerut
bagai bunga yang layu

09 Juni 2013



Pada Sebuah Musim
 
"Di musim semi, aku akan berjalan seiring dengan cinta di antara bunga-bunga violet dan melati." ~ Kahlil Gibran

Cinta tumbuh di taman hati
pada setiap musim
di antara bunga-bunga liar di padang
di musim salju yang dingin,
di tanah tandus yang gersang
dia tumbuh tanpa air,
tanpa angin muson
di tengah percakapan burung dan daun
di tengah-tengah badai aurora borelis
di kutup es
ya, dia seperti melodi dengan syair syahdu
dengan rebana ketimpring
yang dimainkan gadis sulamit
menari-nari di tengah padang gembala
menanti kekasih yang dirindu
seperti madu di bibir ranum
sebuah pertemuan cinta
antara rama-rama dan kembang pesona
Wahai rindu
seandainya engkau kudekap
janganlah engkau berlari lagi
tinggallah di sini
di antara bunga violet dan melati


14 Mei 2013



Senja semakin larut

wajah-wajah semakin sepi
menghilang dalam sunyi
seorang lelaki pemuja cinta
larut dalam syair-syair rindu
menulis sebuah sajak surealis
dalam ambang bawah sadarnya
menerawang menembus batas langit
di situ dia bertemu
sebuah mahar
yang harus dibayar
tunai

30 Mei 2013


Wanita dan Bulan

Jika hari sudah mulai meninggi
matahari bersinar dengan teriknya
maka engkau menyebut dia
seorang wanita
Dalam cahaya dia akan tampak
dalam semua perwujudannya
Jika hari sudah mulai meredup
cahaya akan sembunyi dalam tirai langit
engkau pun akan tahu
dia pun seorang wanita


Bulan akan nampak
karena dia selalu tak bisa menghindar
dari datangnya bulan dan
setiap awal bulan dia akan menagih
jatahnya


07 Mei 2013



Biru Yang Membiru

Biru yang membiru
betapa dalamnya warnamu
tenggelam dan hanyut
ke dasar
lubuk yang dalam
palungan
. . .
Hatimu


30 Mei 2013



Jadilah Pohon

"Ia pasti akan menjadi seperti sebuah pohon yang ditanam dekat aliran-aliran air,Yang menghasilkan buahnya pada musimnyaDan yang dedaunannya tidak menjadi layu,Dan segala sesuatu yang ia lakukan akan berhasil." ~ NWTOHS ~

Jadilah hijau
agar segar matamu
seperti lumut
tumbuh karena lembab
Jadilah pohon
meneduhkan
rindang daunnya
tempat burung berlindung
Jadilah beringin
besar dan mistis
banyak menyan dipersembahkan
tempat berlindung
Jadilah kelapa
banyak santan
buat kudapan lezat
sayur lodeh
Jadilah zaitun
minyak emas penuh pesona
membuat kulitmu cerah
cantik dan jelita
jadilah pohon, daun dan ranting
tumbuhlah menjulang langit
berbuahlah dengan lebat
agar engkau tidak dipangkas

18 Mei 2013
 

© Originally written by Sonny H. Sayangbat


Biodata Singkat

Penulis lahir di Jakarta 14 Desember, giat menulis puisi dan karya puisinya beberapa diterbitkan di berbagai media cetak dan online, antara lain : SKH Republika, SKH New Sabah Times, SKH Berita Minggu Singapura, SKH Utusan Borneo, SKH Mata Banua, Kompas.Com, Horison Online, RetakanKata, Lembaran Kebudayaan Indoprogres, Rima News, Koran Atjeh, Lintas Gayo, Jurnal Tanggomo, Koran Bogor, Wawasan News, Kuflet, dan beberapa lagi yang lain.
Serta dua karya buku puisi antologi bersama beberapa penyair manca negara berjudul : "Lentera Nusantara dan Manusia dan Mata-Mata Tuhan, saat ini sedang mempersiapkan dua buah buku antologi puisi bersama penyair manca negara.
Bisa dihubungi di email : sonny_sayangbati@yahoo.com dan sonny14sayangbati@gmail.com

Isyarat yang Kejengkolan Menuju Bulan Puisi

Oleh Jibal Windiaz*

Bulan suci ramadhan tinggal sejengkal lagi. Bulan yang puitik bagi masyarakat muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, menjelang bulan puasa kerap kali disambut oleh isyarat kenaikkan sejumlah harga bahan pokok. Sebut saja jengkol, yang beritanya relatif fenomenal belakangan ini selain persoalan BBM dan embel-embelnya. 

Meski nasib jengkol masih berstempel makruh (di luar makanan wajib). Tetapi bukan mustahil nasib jengkol bakal berstatus haram dikemudian hari yang entah, dengan justifikasi yang bakal serupa disematkan pada rokok kretek kita hari ini. Dimana ada mangsa pasar di situlah pemangsa pasar (kaum modal) memainkan politik pasarnya; seperti arloji, mengulang tanda yang sama.

Bangsa lain tidak punya kualitas tembakau seperti yang tumbuh subur di tanah Jawa. Ragam jenis dan olah tanam-tumbuhnya jelas berbeda jauh dengan iklim serta budaya agraris kita. Di belahan dunia lain istilah ‘kejengkolan’ (baca: teler akibat kebanyakan makan jengkol) adalah istilah yang ganjil dan mngkin butuh penjelasan lebih bagi orang di luar Indonesia, seperti halnya masuk angin dan budaya kerokan.Tidak ada di kamus medis Negara maju istilah-istilah tersebut.

Lantaran menu semur jengkol juga, krupuk jengkol yang demikian dangdut sekali rasanya itu adalah menu yang asing bagi budaya meja makan mereka. Bahkan, bagi sebagian orang Indonesia, jengkol dipandang sebagai makanan yang miskin manfaat. Limbahnya acap kali difitnah menganiaya harkat kloset di kamar mandi.

Sejurus dengan bau tak sedap dari dalam kloset. Berhadapan dengan realitas puisi hari ini, berhadapan kembali dengan fenomena sejumlah iklan di televisi dalam merasuki para ‘penunai puasa’. Mulai dari iklan kue, sirup, kecap, ‘berbuka dengan yang manis’. Puitika yang berdaya slogan acap kali mampu merepresi bawah sadar publik dalam memaknai puasa dan lebaran sebagai ritus pasar belaka. Bahkan, keinginan selebriti dalam berhijab yang dirayakan melalui media gosip, serentet program tontonan berdurasi ekstra hiburan pun tak mau kalah saing untuk memprovokasi hasrat konsumsi.

Membaca kembali puisi pendek Sitor Situmorang pada Malam Lebara:n Bulan di atas Kuburan. Dari situlah dapat kita cembung-cekungkan kaca baca kita, dimana (penyair) sebagai produsen sekaligus konsumen teks ada kalanya hadir sebagai peziarah atas teks-teks yang disediakan oleh alam bacanya. Jika begitu, ‘Menulis di atas Realita’ seperti yang pernah dicetuskan SCB adalah semacam semacam upaya mendekonstruksi kembali media gagas nilai (baca: puisi) untuk lepas dari sekadar memindahkan teks belaka. Jika begitu, sudah seharunya puisi bukanlah sebuah proyek bongkar-muat, bukan sebuah upaya sekadar mengisyaratkan ‘kejengkolan’ atau hasrat konsumtif dari kepamrihan pasar belaka. 

Menciptalah. Lepas dari segala kejengkolan, lepas dari segala kurikulum keadaan, dan kepadananyang terlanjur cemar oleh kepentingan rezim kebudayaan hari ini. Tanpa harus terjebak ditindas jarak dan keterasingan yang bersunyi bunyi.   

*Penulis adalah koordinator Komunitas Kretek Jakarta

Peran Mahasiswa dalam Pendidikan Politik Masyarakat

Banyaknya masyarakat yang kurang memahami sistem politik secara benar, serta menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilu menimbulkan pertanyaan siapakah yang berperan dalam pendidikan politik pada masyarakat?. Pemerintahkah, partai politikkah, media massakah atau mahasiwa?

Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bunyamin Maftuh, perilaku politik masyarakat saat ini masih banyak yang kurang memahami sistem politik secara benar (Political lliteracy). Hal itu menyebabkan terjadinya kecenderungan penurunan partisipasi politik masyarakat (apatisme politik).

Ia menambahkan, jika pendidikan politik terletak pada pemerintah, maka yang terjadi sesungguhnya tidak ada kegiatan pendidikan politik yang terstruktur seperti halnya penataran pada masa orde baru, “Itu pun masih ada kelemahan dari sisi kekhawatiran terjadi indoktrinasi politik,” katanya setelah mengisi seminar di Auditorium Harun Nasution, UIN Jakarta, Selasa (11/6).

Memang, lanjutnya, pemerintah telah mengenalkan 4 pilar kebangsaan namun belum secara intensif dilakukan kepada masyarakat secara massif.

Sementara, pendidikan politik masyarakat yang berada pada partai politik lebih berorientasi pada pengejaran kekuasaan dan kurang pada peningkatan kesejahteraan anggota. “Para pengurus partai kurang mampu memberi contoh sikap dan perilaku politik yang baik bagi masyarakat,” katanya.

Bunyamin juga menyoroti media massa yang cenderung memberikan pengajaran politik yang buruk kepada masyarakat dengan memperlihatkan tawuran,demo, pertengkaran anggota dewan dan pertengkaran sesama pengacara untuk membela para koruptor. “Sehingga lambat laun hal ini akan mengendap dalam pikiran masyarakat bahwa perilaku politik seperti itu,” jelasnya.

Menurut Bunyamin, peran mahasiswa dinilai sangat penting dalam memberikan pendidikan politik pada masyarakat. Mahasiswa tidak cukup menjadi praktisi intelektual akademis yang hanya duduk sambil mendengarkan dosen, lebih dari pada itu mahasiswa dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan politik masyarakat sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Bagi Bunyamin, mahasiswa harus berperan aktif dalam memberikan informasi politik kepada masyarakat mengenai track record para calon. Kemudian mahasiswa juga harus memberikan informasi mengenai kondisi politik, sehingga masyarakat mampu mengontrol situasi politik yang ada. “Itulah pendidikan politik yang sesungguhnya,” terangnya. 

(RJ)

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

Lelap di Kolong Jembatan

Ayo kirim tulisanmu ke : redaksi@angkringanmedia.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta | Tongkrongan Informasi - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta