Berita Terbaru:

FOTO

Falsafah yang Hilang

kerisOleh Eko Marwanto*

Aku duduk dihadapanya , sambil memperhatikan ia menggulung kertas papir yang berisikan tembakau kemudian disulut ujungnya dan “buuh..” Asap keluar dari mulutnya dengan bau Kemenyan yang cukup  menyengat.

Waktu itu masih belum jelas berapa umurku, namun yang teringat aku masih duduk di bangku SD dan kakekku sudah hampir 80 tahun. Sambil menikmati rokok lintingan, dia bercerita  tentang penciptaan dunia ini, tentang takdir yang dapat di hitung dari sela jari, tak lama kemudian dia menunjukan benda-benda pusakanya yang mungkin berjumlah puluhan. Dari sekian banyak benda pusaka hanya ada adalah sebilah keris dan sebuah tombak yang masih terekam dalam ingatanku.

Kakeku menceritakan tentang keris kesayangannya yang bernama Saka bumi. Keris itu didapat dari gurunya yang bernama Eyang Rama Dikrama, seorang tokoh ahli kanoragan di tanah Cilacap, bahkan beliau telah mengalah kan semua perguruan di tanah Cilacap ini dan mempersatukannya dengan mendirikan perguruan bernama Cempaka Warna.

Dari cerita yang didapat, Eyang Rama Dikrama kebal dari berbagai macam senjata, namun sayang beliau meninggal oleh kerisnya sendiri yaitu Keris Saka Bumi, seperti kisah empu Gandring yang mati karena kerisnya sendiri, “ Sebenarnya Kekuatan dan kelemahan itu ada pada dirimu sendiri maka dari itu kalau kau ingin memenangkan perang kau harus dapat mengalahkan musuh yang ada dalam dirimu sendiri,“ begitulah petuah kakekku setelah bercerita panjang tentang kerisnya, meski saat itu aku belum paham apa maksud perkataan itu, yang jelas mulai saat itulah aku sangat mengagumi kakekku.

Pada suatu hari aku di ajak kakeku pergi hamparan sawah yang letaknya tepat di bawah bukit Cempaka Warna. Suasananya begitu sejuk, pohon-pohon besar berderet menyimpan sejuta misteri , kicauan burung-burung terdengar dari setiap dahannya, yang seolah-olah ingin menceritakan mengenai hikayat panjang perjalanan dunia menua dan rapuh. Sesekali terdengar seperti nyanyian Biyung menimang Sibuyung hingga terlelap dan tidur, begitu damai, namun terkadang seperti tangisan memilukan, seakan mengundang malaikat maut sehingga bulu kuduk berdiri. Langkah kami berhenti di pematang sawah yang letaknya paling tinggi.

“ Kemari Ndo…” aku duduk di sampingnya
Kemudian dia berkata,“ Pejamkan matamu, kemudian rasakan angin perbukitan menerpa wajahmu, dengarkan suara alam dengan hatimu, dengar setiap bahasanya lalu terjemahkanlah, tariklah nafasmu sedalam-dalamnya dan rasakanlah bau tanah ini kemudian peluklah seolah kau memeluk ibumu dan kau akan merasakan kedamaian,” pintanya.  

Aku tak mengerti apa yang dikatakan kakekku aku hanya bisa mencuri-curi pandang apa yang dilakukan kakek sambil sesekali tersenyum melihat tingkah kakek, kemudian kakek mengajakku pergi mendekati sebuah pohon

“ pohon apa ini kek ?”
“ Ini pohon Kiara, usia pohon ini sudah ratusan tahun, sudah banyak kisah  yang dia catat dalam perjalanan generasi kita, yang jelas generasi mulah yang akan menutup catatannya,” katanya.

“Maksudnya Kek..?”
“Kelak ketika kau sudah dewasa kau akan mengerti “
Sampai di sebuah lereng yang curam kakek berhenti, Aku lihat kakek mengeluarkan kerisnya ‘ Saka Bumi’ kemudian menancapkanya begitu dalam.

“ Kenapa kerisnya kakek tancapkan di sini bukanlah itu keris kesayangan kakek ?” tanyaku
“Nanti di akhir generasiku, tak ada lagi orang yang mampu mendengar bahasa alam dan pohon kiara itu akan mengakhiri catatannya “ tandas kakek

“ jadi apa hubungannya dengan keris ini ?“

“Semua falsafah kami tidak akan ada lagi yang percaya, semua akan berganti dengan falsafah barat yang menakjubkan dan penuh logika, jadi kakek sengaja menguburkan keris ini agar kelak kau mengerti, apa yang kau tidak mengerti sekarang”. Semakin aku tidak mengerti, semakin aku mengaguminya aku lihat semua yang di lakukan kakek dan kucatat dalam pikiranku.

Usia telah membuat begitu lemah saat itu hingga ia hanya bisa terbaring lemah di atas kasur, aku ingat saat itu aku pergi ketempat kakek biasa mengajarkanku bahasa alam, aku coba  pejamkan mataku dan aku merasakan aliran udara bukit yang menerpa wajahku, kemudain aku merasakan tubuhku sangat ringan, saat itu sungguh aku sangat takut membuka mataku karena aku merasa angin telah membawaku terbang, seketika  ku dengar  bisikan “ Bukalah matamu , kemari dan peluklah ibu”, aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya hanya bau harum yang menggambarkan sosok ibu yang begitu mencintai anaknya dan aku larut dalam kedamaian.

Kemudian dia memperlihatkan sekelompok anak-anak yang bermain di bawah pohon kiara, menari, berputar, dan tertawa begitu riangnya, lalu aku melihat seorang gadis kecil yang bernyanyi di atas dahan pohon kiara yang menjulang tinggi, terdengar begitu  indah nyanyian itu meski bahasanya tak sedikitpun aku mengerti, aku berjalan mendekati mereka, mereka tersenyum menyambutku kemudian menggandeng tanganku membentuk lingkaran dan berputar bunga-bunga ilalang bertaburan layaknya salju, kuliahat ke atas, pelangi begitu berwarna-warni, betapa indahnya bumi ini, kemudian terdengar suara yang begitu mengagetkanku, sontak semuanya sirna, ternyata itu adalah suara pamanku belau mengabarkan bahwa kakek mungkin sudah sekarat, aku pun segera pulang bersama paman, kulihat kakek sudah tersengal menarik nafasnya akupun mendekatinya, kemudian kulihat dia tersenyum padaku, dan berbisik. “ kau sudah melihatnya?, “ aku mengangguk sambil menitikan air mata, ia kemudian perlahan menggerakan tangannya dan menunjuk kearah dadaku sambil tersenyum, akhirnya kakek menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sejak saat itu aku pergi bersama Ayah ku ke kota meski sebenarya akau tidak pernah mau tinggal bersama ibu tiriku, makanya aku memilih tinggal dengan kakek namun keadaan memaksaku untuk tinggal bersama mereka. Aku berniat kembali ke desa itu untuk melihat Sakabumi dan mempelajari falsafahnya. Dengan perasaan pahit yang aku pendam selama ini bersama keluarga baruku, kini aku kembali ke desa yang banyak sekali menyimpan kenangan-kenangan indah masa kecilku 

Kulihat pintu itu masih sama seperti dahulu tampak jelas goresan paku yang bertuliskan namaku, Ruang depan masih sama seperti dulu, tampak jelas kursi rotan, dan meja kayu jati terlihat  kokoh, ranjang besi berwarna hijau tempat kakek tidur pulas setelah seharian berkutat dengan sawah masih tersimpan rapih dalam kamarnya.

Saat itu juga ku bersihkan Rumah kakek dari debu dan jaring  laba-laba , entah kenapa perasaanku selalu tertuju pada desa ini, meski tawaran-tawaran pekerjaan yang cukup menggiurkan silih berganti menghampiriku  memang predikat cumeload dari universitas ternama di sandangku begitu memikat perusahaan asing, namun tak sedikitpun aku tergoda.

Bayangan kakeku dan Saka bumi selalu menghampiriku sehingga aku putuskan untuk kembali ke desa ini. Hari itu juga aku pergi menuju sawah kakek, yang terletak tepat di bawah bukit Cempaka Warna tempat dulu aku bermain bersama kakek.

Namun apa yang kulihat saat itu sungguh jauh berbeda dengan keadaan saat aku kecil dahulu, tanah terlihat gersang, sungai-sungai kecil yang dulu selalu ramai dengan gemericiknya kini seperti mati, hanya batu–batu besar yang mulai rapuh dan nampak bosan, perbukitan ini terasa sepi tak adalagi pohon-pohon besar atau kicauan burung anak  “prenjak” dari balik dahan menunggu induknya pulang membawa makanan.

Kulihat pohon Kiara sudah tak lagi ditempatnya, ternyata benar kata kakekku generasikulah yang akan menutup catatannya, aku berjalan menuju tempat di mana Saka bumi dikuburkan bersama falsafah kakeku , sedikit demi sedikit kugali tanah semakin lama semakin dalam namun tak kutemukan Saka Bumi . aku pun beranjak  pergi, sesekali air mata menetes, benarkah falsafah-falsafah itu telah hilang.

Aku berniat menemui pamanku dengan berjuta pertanyaan yang ingin aku tanyakan , kulihat paman sedang duduk di serambi rumahnya
“ Kapan datang ,“ tanya pamanku
“ Kemarin paman, ada yang ingin aku tanyakan paman, apa yang terjadi dengan desa ini  kenapa sawah-sawah mengering, apa tidak ada lagi yang mau menanam padi, kemana pohon-pohon di perbukitan siapa yang menebangnya ?” Tanyaku

“Sekarang lihat baik-baik desa ini, tak ada satupun, seorang pemuda di Desa ini, Semuanya pergi ke Negeri tetangga, sedangkan paman pegang sendok saja sudah gemetar, apalagi harus mencengkram cangkul”  tegas paman .

Aku paham maksud pamanku, terang sudah semua yang diceritakan kakekku dulu ,
“ Suatu hari tanah ini akan menjadi kotoran, hingga generasimu jijik melihat tanah ini apa lagi bermain dengannya “. Ternyata benar kini  para petani sudah mulai menua tanpa ada generasi pengganti.
“Menjadi babu di negeri orang  lebih membanggakan dari pada berkubang  lumpur di tanah leluhur “
“ Begitu banyak bahasa yang akan kau  pelajari, hingga lupa bahasa  ibu sendiri”,
“ Dahulu banyak orang yang mati di jalan dan mereka adalah Pahlawan, namun kelak  akan  lebih banyak orang yang mati dijalan dan mereka adalah pecundang “.

Seketika apa yang kakek ceritakan dahulu terasa begitu nyata , seperti sebuah scenario yang mulai dipentaskan oleh para lakon generasi kami, atau bagaikan  jumlah angka dalam sebuah garis  kehidupan yang awal dan akhirnya sudah pasti di ketahui.

Sekarang aku menegerti apa yang selalu kakek ceritakan padaku, sungguh benar-benar terjadi, generasikulah yang akan mengakhiri catatan-catatan mereka.  Benar atau tidak yang jelas kini falsafah-falsafah itu telah hilang.  


*Penulis bermukim di Cimanggu, Cilacap









Yuk Jelajah Pulau Tidung dan Sekitarnya

wisata pulau tidung, paket wisata murah, jelajah pulau tidung
Masih adakah yang mempertanyakan atau mesangsikan keindahan alam Indonesia? Yup, keindahan alam yang membentang dari sabang sampai marauke kiranya sudah bukan diragukan lagi. Soalnya, sudah banyak wisatan baik lokal atau asing secara khusus mendatangi daerah tertentu hanya untuk menikmatinya.

Salah satunya, yakni pulau tidung. Sebuah pulau yang masuk dalam salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Untuk dapat menikmati segala macam pesona yang terdapat di pualu ini tak perlu dana besar alias murah.  pulau tidung

Lantas apa saja yang bisa dinikmati di pulau tersebut? Namanya juga pulau yang dikelilingi pantai tentunya para wisatawan akan disuguhkan dengan pesona pantai baik pemandangan di dalam dan luar pantai.

Benar sekali, selain menikmati permainan banana, bagi yang hoby menyelam atau menasaran dengan keindahan terumbu karang. Setalah itu, khususnya bagi pergi berpasangan bisa ke Jembatan Cinta, yakni sebuah jembatan yang menjadi pembatas antara Pulau Tidung yang terdiri dari Tidung Besar dan Tidung Kecil yang kemudian dinamakan oleh penduduk sebagai jembatan cinta. Dari sana dijamin akan didapatkan suasana romantis sambil menikmati keindahan matahari tenggelam.

Sedangkan bagi mereka yang ingin menjelajah pulau ini, berikut ini rute yang sudah menjadi kebiasaan para wisatawan. Bermula sambutan perkampungan penduduk. Pada perkampungan ini, para wisatawan dapat membeli aneka macam makanan atau pernak-pernik sebagai kenang-kenangan.

Berikutnya adalah menelusuri jalan setapak yang panjang ini ini akan melewati fasilitas umum, seperti kantor polisi, sekolah setingkat SMU untuk para pelajar dari pulau sekeliling, kumpulan warung dan menuju ke jembatan cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil tanpa penduduk.



 pulau tidung Jika agak malas berjalan kaki, tak usah kuatir di sini juga tersedia tempat penyewaan sepada yang akan menbawa para wisatawan pada sebuah jembatan akan dijumpai sebuah pemandangan  jembatan yang cukup tinggi untuk melalui suatu cekungan laut yang agak dalam, dimana banyak anak kecil penduduk setempat memperagakan loncat indah dari jembatan sebagai sarana bermain mereka, cukup menghibur para wisatawan dan amat mengundang keinginan untuk bisa bergabung dengan mereka melakukan loncat indah di pantai biru tanpa ombak.

Di penghujung jembatan penghubung, menapaki pantai Pulau Tidung Kecil yang merupakan kawasan pengembangbiakan mangrove, masih tampil indah ditelusuri dengan bersepeda, melalui jalan setapak yang dipenuhi dengan ilalang dan pantai sepi yang pasirnya putih lembut, sangat indah pemandangannya.

Bagaimana, apakah teman-teman tertarik untuk mengunjungi salah satu kawasan Jakarta yang sangat jauh dari bisingnya Ibu kota, jika benar-benar tertarik sangat mudah tinggal hubungi saja dengan mengklik link di sini. Selanjutnya untuk lebih jelasnya silakan menayakan sepuas hati.
 

Ciamik! Timnas U-19 Bungkam Uni Emirat Arab 4-1

Penampilan Tim nasional Indonesia U-19 saat menghadapi Uni Emirat Arab dalam uji coba pada pertandingan yang berlangsung di Stadion FA Complex, Al khawaneej, Senin (14/4/2014). Evan Dimas dan kawan-kawan mampu menunjukkan penampilan ciamik sejak menit-menit awal dan al hasil ‘Garuda Muda’ secara mengejutkan menang telak 4-1 atas tuan rumah, yang nota bene juara Grup B kualifikasi Piala Asia AFC U-19 beberapa waktu lalu.

Pada laga yang berlangusung, U-19 langsung menggrebak pertahanan UEA. Hal tersebut terlihat saat laga baru berjalan enam menit, Timnas mendapat peluang emas, peluang bermula dari pergerakan Maldini Pali dari sayap kanan yang kemudian mengirim umpan silang mendatar kepada Sial, Muchlis, namun sayang Hadi gagal menyontek bola sebab kalah cepat dari barisan belakang pemain UEA U-19.

Muchlis Hadi kembali mengancam di menit 11. Mendapatkan bola terobosan, dia bisa memenangi adu sprint dengan pemain belakang UEA U-19. Tapi, sepakan kerasnya dari dalam kotak penalti masih bisa ditangkap dengan sempurna oleh kiper UEA U-19 Jamal Ismaik.

Lagi-lagi, Hadi mendpatkan peluang emas saat laga berjalan menit ke-6, sayang dia bisa memenangi adu sprint dengan pemain belakang UEA U-19. Tapi, sepakan kerasnya dari dalam kotak penalti masih bisa ditangkap dengan sempurna oleh kiper UEA U-19 Jamal Ismaik.

Mendapat tekanan, UEA U-19 tak tinggal diam dalam melakukan serangan, tepat di menit 15. Muhammed Saeed menyodorkan bola pada Rashed Ganem, yang bisa melepaskan sepakan keras dari luar kotak penalti tapi masih menyamping.

Dua menit berselang, Ahmed Jamel mendapatkan peluang matang. Dia bisa menguasai bola salah passing dari salah satu pemain timnas U-19, sial sepakannya masih bisa diantisipasi oleh Awan Seto.

Maldini kembali beraksi, dalam aksinya pemain lincah ini mengirimkan umpan manis Paulo Sitanggang yang  nyaris membuka keunggulan bagi timnas U-19 di menit 27. Mendapatkan umpan tarik dari Maldini, Paulo mampu melakukan sepakan terarah tapi masih menerpa mistar gawang.

Timnas U-19 akhirnya bisa memecah kebuntuan di menit 42. Menerima umpan terobosan Evan Dimas dari lini tengah, dia dengan tenang memasukan bola ke dalam gawang UEA U-19. Skor terebut tetap tak sama hingga wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya babak pertama.

Memasuki babak kedua, giliran UEA U-19 merobek jala ‘Garuda Muda’. Berawal dari sepakan bebas dari sisi kiri, Abdulah Ganem mampu menyundul bola masuk ke gawang Awan Seto.

U-19 kembali unggul, kali ini giliran kapten Evan Dimas dengan tenang mengontrol umpan silang menyusur tanah dari Maldini, Evan dengan tenang mengecoh lini belakang UEA U-19 lalu  menyarangkan kulit bundar ke jaring lawan pada menit 66.
Masuk sebagai pemain pengganti, Septian David Maulana memberikan kejutan dengan menyumbangkan satu gol di menit 77. Dimas Drajat memberikan umpan tarik terukur dari sayap kanan untuk Evan Dimas.

Sepakan Evan Dimas dari jarak dekat masih bisa diblok lini belakang UEA U-19, tapi Septian David sukses menyambar bola rebound untuk membawa timnas U-19 unggul 3-1.

Jelang bubaran, Dimas Drajat menambah gol di masa injury time. Mendapatkan umpan silang terukur dari Yabes Roni Malaifani, sepakannya dari jarak dekat sukses membobol gawang UEA U-19 untuk keempat kalinya.


Susunan Pemain:

UEA U-19: 17 Ismaik, 4 Ganem, 6 Wahab, 18 Jamel, 25 Al Nubi, 8 Based, 28 Jasem, 12 Kadem, 21 Qadir, 16 Saeed, 13 Ganeem

Timnas U-19: 12 Awan Seto, 2 Putu Gede, 23 Ryuji, 19 Hansamu, 5 Factu Rochman, 8 Hargianto, 6 Evan Dimas, 17 Paulo Oktavianus, 15 Maldini, 20 Ilham Udin, 10 Muchlis Hadi

Konstruksi Pemikiran Sukarno Ketika Muda

Oleh Reza Fajri*

Judul Buku : Sukarno Muda: Biografi Pemikiran 1926-1933
Penulis : Peter Kasenda
Tebal : x + 158 hlm
Penerbit : Komunitas Bambu
Edisi : I, 2010

Pada suatu hari di tahun 1921, seorang pemuda sedang bersepeda tanpa tujuan di sebuah daerah pertanian di bagian selatan kota Bandung. Entah karena lelah atau bosan, pemuda itu berhenti sejenak dari “jalan-jalannya” dan memutuskan untuk berbincang dengan salah satu petani. Melalui perbincangan dengan sang petani tersebut, diketahui bahwa ia dan petani-petani lainnya mengerjakan sawah milik sendiri atau warisan dari orang tua. Hasilnya sangat pas-pasan, hanya untuk memberi makan keluarga sendiri, tak ada hasil lebih yang bisa dijual. Ketika pemuda tersebut menanyakan namanya, petani tersebut menjawab: Marhaen.

Sukarno bukanlah seperti Hatta yang di usia 16 tahun sudah menjabat sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, atau Sutan Sjahrir yang menjadi tokoh Perhimpunan Indonesia sebelum menginjak umur 20 tahun. Sewaktu mulai bersekolah di Technische Hoge School (sekarang Institut Teknologi Bandung), ia sebenarnya mungkin masih ragu mengenai pilihan karirnya. Namun setelah berbincang dengan seorang petani bernama Marhaen, Sukarno kemudian menemukan satu konsep yang bisa mengubah kehidupan rakyat kecil, yaitu dengan melawan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Konsep “Marhaenisme” memberikan sumbangan yang besar bagi konstruksi pemikiran politik Sukarno. Melalui Marhaen, ia terinspirasi untuk mengkaji dan menganalisis sifat-sifat masyarakat kecil dan pemerintah kolonial. Nama petani kecil asal Bandung Selatan tersebut ia jadikan sebagai simbol rakyat kecil (petani, buruh, nelayan) yang paling menderita karena kekejaman kaum penjajah. Istilah “Marhaen” menjadi terkenal saat digunakan oleh Sukarno dalam pledoinya Indonesia Menggugat di Pengadilan Negeri Bandung pada 1930. Lebih lanjut konsep marhaenisme kemudian disahkan dalam kongres Partindo pada 1933, sebagai dasar-dasar politik. Melalui 9 tesis konsep Marhaenisme yang Sukarno paparkan dalam kongres tersebut, ia mengharapkan adanya persatuan dari seluruh kaum tertindas di Indonesia, agar kemerdekaan dari kekuasaan Belanda bisa segera diperoleh.

Konstruksi pemikiran Sukarno di era 1926-1933 itulah yang menjadi tema dalam buku Sukarno Muda:Biografi Pemikiran 1926-1933. Buku karya Peter Kasenda tersebut sejatinya adalah skripsi sang penulis saat menempuh studi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (sekarang Ilmu Pengetahuan Budaya), Universitas Indonesia pada 1987. Dalam penerbitan buku ini, Peter Kasenda sengaja tidak melakukan perubahan dalam skripsinya. Sehingga pembaca akan dibuat seperti sedang membaca sebuah skripsi.

Dalam skripsi yang judul aslinya adalah “Machtsvorming dan Machtsaanwending: Studi awal terhadap tulisan-tulisan Sukarno tahun 1926-1933” tersebut, sang penulis berusaha menceritakan proses lahirnya pemikiran-pemikiran politik Sukarno di era 1926-1933, di mana saat itu masyarakat sedang diliputi semangat anti kapitalisme dan imperialisme. Pada saat itu juga Sukarno sedang giat mengirim tulisan-tulisannya kepada beberapa surat kabar seperti Indonesia Moeda, Soeloeh Indonesia Moeda, dan Fikiran Ra’jat.

Kemudian, dalam buku ini pembaca juga bisa mengetahui perbedaan-perbedaan pendapat yang sering terjadi antara Sukarno dengan Hatta. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang mungkin mempengaruhi hubungan keduanya di masa mendatang. Di samping itu Peter Kasenda juga memaparkan bagaimana ajaran Karl Marx bisa menginspirasi pandangan Sukarno terhadap kepentingan pergerakan Indonesia.

Selain skripsinya, penulis juga menambahkan sebuah post-script, yang berisi tentang bagaimana konsistensi pemikiran Sukarno saat ia menjadi pemimpin pergerakan, presiden, sampai ke detik-detik terakhir hidupnya. Ada beberapa istilah dalam buku ini yang mungkin baru pembaca lihat. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena terdapat anotasi di bagian akhir buku.

Sukarno ketika muda, mungkin sama dengan pemimpin-pemimpin besar dunia lainnya, menunjukan bahwa kegiatan membaca dan menulis bisa menjadi langkah paling awal dan sederhana dalam menuju kedewasaan berpolitik. Politisi atau presiden yang baik tentunya harus melalui proses yang panjang dan melelahkan agar bisa melahirkan pemikiran-pemikiran yang cemerlang. Tidak percaya? Silahkan tanya Rhoma Irama...

Penulis adalah pemilik akun Twitter @rezafajri

KIDUNG DEMOS KADUNG KRATOS


Oleh Adey Sucuk Zakaria Bahar*

Ilustrasi oleh www1.curriculum.edu.au

Ketepak kaki kuda berentet mengalunkan suara tertib dalam ritme triplet. Pecut-pecut prajurit membabi-buta menghajar siapa pun yang halangi jalan. Banyak yang tergencet, ada pula yang tersungkur meniduri tanah. Para jelata di bibir pasar itu kisruh, saling dorong, takut terkena sabetan. Tapi orang di dalam kereta kuda tak bergeming barang sebentar saja.

Sirene polisi meraung seperti sangkakala. Motor-motor besar serupa belalang tempur memalang apa pun dihadapan. Gerombolan mobil berharga triliunan melesat ringan satu barisan. Tak ada perhatian terhadap dunia luar atas orang berdasi ini dari balik tabir surya. Atas nama standar prosedur, jalan ini adalah milik mereka semata. Padahal perempuan bunting setengah mati meregang nyawa dalam omprengan butut.

Kilat. Rombongan kereta kuda kini telah ada di serambi kastil nan megah. Tiang-tiang penyangga berlapis marmer menjulang. Langit kubah penuh lukisan bidadari telanjang. Lantai keramik berlumur intan permata. Guci-guci emas menunggui setiap sudut ruangannya seperti demit. Cawan-cawan berisi tujuh puluh jenis buah setia pada meja megah berbahan kayu jati berbalut kemilau emas. Wanita-wanita molek mendekat dengan jinak, namun tak diindahkan. Tersungut-sungut ia banting segala yang tergapai sambil nyemburkan kesumat. Anak buahnya yang sial tertebas batang lehernya.

Percikan darah si pengawal istana malang mengenai stelan jas parlente hitam yang membalut dirinya. Selaras pistol yang ia tembakan pada jidad sang anak buah kini terpelanting di permadani bermotif panorama, hadiah dari salah satu tamu negaranya bulan lalu. “Siapa yang begitu lancang mengusik dirimu Pak?” suara perempuan bersanggul memecah ketegangan. Rupanya sang istri mafhum, Presiden ini memang acap kalap jika sesuatu tak sesuai selera.

Dalam perjalanannya barusan, khalayak meludah bahkan melempari rombongan dengan sampah. Sesuatu yang tak pantas untuk seorang raja, yang telah memberi mereka hidup. Mengingat insiden itu, rahangnya gemeratak, tangan terkepal memegang pedang berlumur darah, otot-ototnya ngembang, nahan amuk.

“Akan mewaris turun-temurun Pak,” tangan sang istri yang ada di dadanya kini membasuh laranya sesaat. Ia masih saja terbengong ketika melihat Ibu Negara ini berseri. F-16 yang penuh amunisi itu pun ia perintahkan untuk kembali. Nyaris saja masyarakat tak tahu diuntung mati gosong.

***
Alkisah, pada sebuah negeri di puncak gunung, dimana langit hanya berjarak lima jengkal, awan-awan seliweran dipacu angin tak kasat, dan puluhan jentayu terbang berputar, terdapatlah sebuah ritus yang termahsyur sejazirah. Seremoni sakral bagi umat manusia. Ribuan tahun sudah acara ini terselenggara secara mewaris. Seperti telah dinubuatkan para leluhur: Tuhan akan datang ke negeri ini setiap lima tahun. Seseorang akan ditasbihkan serta disembah meski ia berkedok anonim atau bahkan dari antah berantah sekalipun. Penduduk negeri telah amat lama menantikan peristiwa bersejarah ini.

Mendengar desas-desus tentang kabar itu, seluruh penguasa dari pelosok dunia datang dengan arogan. Masing-masing mengaku merekalah sosok tuhan. Sang pesohor. Yang maha dari segala. Mereka datang komplotan sesuai dengan jubah kebesaran dan terciri koloni: dengan gajah purba, dengan naga api, ada yang jalan kaki, ada yang muncul begitu saja secara gaib, ada kelompok perempuan yang datang dari balik rembulan, ada yang bangkit dari kubur, lalu ada yang mengendarai awan, bahkan ada yang datang dengan hanya berupa bayangan.

Akan halnya dengan sang raja dan presiden. Mereka datang. Mereka ingin rakyat negerinya bangga dengan ia ternobat sebagai tuhan. Mereka ingin rakyat mencintainya. Mereka ingin menggenggam kepatuhan rakyat bulat-bulat. Absolut.

Namun, ketika melihat bagaimana cara-cara penguasa lain datang, ciutlah nyali mereka seperti domba di kandang singa. Mereka pucat.

Berbondong-bondong rakyat sepelosok nyerbu dari delapan penjuru. Mereka penasaran. Mereka lapar tuhan idaman. Sudah bukan rahasia umum kalau kinerja tuhan sekarang amat mengecewakan. Rakyat tak mau lagi kecolongan untuk yang kedua kali. Tuhan harus sesuai dengan selera mereka sendiri. Harga mati.

Para kandidat tuhan giat mengeluarkan kiat untuk menarik simpati rakyat. Tak jarang mereka serampangan nampilkan siapa yang lebih prima. Adu kesaktian berlangsung sengit. Arena pesta sejurus kemudian seperti obral tenung, dan segala macam ajian. Jual-beli serangan tak bisa dihindarkan. Banyak hal ajaib nyeruak mengadegan. Tapi kerumunan massa yang menyimak tetap anteng seperti nonton layar tancap.

Setali tiga uang, sang raja dan presiden juga tak nyangka dengan apa yang dilihat. Takjub. Mereka kikuk sendiri. Sampai akhirnya mereka juga terkena serangan, meledaklah amarah mereka! Sang raja berubah wujud jadi raksasa. Negeri itu kini hanya sebesar jempol kakinya. Pun demikian dengan sang presiden, serta-merta jutaan pesawat tempur memberondong penguasa lain. Ribuan kapal perang di semenanjung juga memuntahkan rudal atas perintahnya. Kondisi pesta berubah jadi medan pertempuran.

Dari kejauhan seorang musafir melihat letusan janggal tersebut. Gegas, ia meluncur ke tempat perkara. Derapnya kencang, pakaian lusuhnya melambai-lambai, begitu pula rambut gimbal berkerak yang menjuntai hingga tungkai. Kontur yang terjal terasa ringan karena ia telah terbiasa dengan pegunungan.

Potret di puncak gunung itu sontak membuatnya terkejut. Huru-hara besar ada dalam sebuah pentas. Dan, sekumpulan massa hanya bertepuk tangan kegirangan melihat semua tragedi.
Seperti itulah.

Seperti juga keberingasan sosok raksasa sang raja yang membawa petaka, atau keampuhan senjata pemusnah masal sang presiden yang mencabut nyawa orang banyak. Tapi bagi khalayak, semakin banyak si kandidat membantai karena dalih melindungi diri, semakin bertambahlah nilai prestisiusnya. Pertanda bahwa kemampuannya untuk melindungi umat manusia benar-benar mumpuni kelak.

Sang musafir terus memerhati. Mencoba untuk paham segala aral yang membingungkan. Mungkinkah ini hanya perang tipu-tipu atau tonil lawakan belaka? Namun ceceran tubuh manusia begitu nyatanya, hingga amis darah merebak kemana-mana. Wanita dan bocah yang buyar pun tampak bukan rekaan. Lautan air mata yang tergenang juga asli dari kesedihan. Cengut, ia tambah bingung dengan sebagian yang lain, yang justru bersorak-sorai. Mereka terus berfoya-foya dengan babi guling dan segentong anggur anta.

                                                                           ***
Puluhan rembulan telah lewat sempurna, pesta itu masih saja bertaji. Khalayak tak jemu mantengi setiap alur pergerakan dan lobi-lobi. Halaman balai kota telah berubah bentuk menjadi tempat penampungan. Para penduduk tak segan tidur dalam tenda, bahkan jika harus berbantalkan lengannya sendiri.

Sementara itu, baku hantam tetap jadi kegiatan yang rutin dilakukan para kandidat. Meski semaput, berwajah bonyok, serta kuping buntung, jurus-jurus masih menerjang tak habis-habis. Ambisi mereka sama besar. Tak ada yang mau ngalah.

Kelompok massa lambat laun jauh dari waras. Berbagai atraksi mereka lakukan agar sang gacoan bertambah sakti. Taburan kembang tujuh rupa, kemenyan, tembako, kupi hitam, kolor biru muda, bahkan ada yang bawa-bawa jubah pocong dari jenazah yang baru dikubur.

Parahnya lagi, ada beberapa yang saling menyakiti diri sesama mereka, caranya pun bermacam-macam, mulai dari saling hantam menggunakan cambuk runcing, balok kayu, palu-arit, botol beling, anak panah, racun arsenik, batu, belati, molotov, pekikan suci, hingga ada yang membakar tubuhnya sendiri dengan geretan atau bom rakitan. Namun pesta tetap terkendali, mereka tak sabar dengan hasil.

Kini tinggal sang raja dan presiden saja yang tersisa. Mereka bunuh-bunuhan. Bayangan untuk jadi tuhan tinggal satu langkah lagi. Mayat-mayat kandidat lain serta rakyat yang ketiban sial menjadi korban salah sasaran bergelimpangan dimana-mana, kubangan darah yang terbentuk hingga setinggi lutut, sedangkan lautan air mata kian lama kian mengering. Tetapi pertarungan kuasa tuhan terus berlangsung. Massa yang menyaksikan malah bertambah, seperti lautan manusia. Mereka meneriaki yel-yel dukungan kepada sepasang kandidat sisa, meskipun mereka tak kenal betul dengan keduanya. Malah mereka tak pernah tahu asal-usul serta rekam jejak keduanya yang sebentar lagi jadi tuhan ini.

Obituari. Sang presiden baru saja mati. Mayatnya tak utuh, berhamburan. Ia baru saja dibejak oleh raksasa jelmaan raja yang kini berpangkat tuhan. Tuhan baru yang hadir seperti nubuat para leluhur setelah meluluh-lantak para pesaingnya. Gelak tawa sang raksasa menggema seantero jagat. Gemuruh halilintar bersambaran seakan ikut merayakan pesta kemenangannya. Wedus gembel dari dalam gunung juga tak ketinggalan mengepul penuhi langit pesta. Suara-suara binatang hutan dari jangkrik sampai gorila ribut saling sahut seakan punya firasat. Gelombang air pasang mencakar-cakar di tengah lautan. Tampak batu-batu meteor bermanuver satu arah gerakan. Suasana semesta seakan-akan merespon kemenangan mutlak sang raja dengan berbagai macam alasan. Entah.

Namun sang musafir justru linglung. Kerumunan massa malah mulai menyusut. Mereka perlahan bubar secara bergilir. Seperti telah kenyang, seperti telah tersalur birahinya. Tak ada lagi hingar-bingar pesta semalam suntuk atau sampai mabuk. Mereka kembali ke aktifitasnya sehari-hari: berkebun, melaut, dagang, ngemis, melacur, ada juga yang jadi tukang pulung. Mendadak mereka seperti baru terbangun dari mimpi. Musafir lapuk itu heran. Padahal sebelumnya para penduduk gempita di tengah pesta.

“Kisanak hendak kemana? Bukankah tuhan baru saja terpilih?” seorang paruh baya dengan langkah ringkih dan pakaian yang serba kumal mendadak berhenti mendengar suara sang musafir. Tampak ia seperti seorang petani, dari kaki dan tangan membercak lumpur. Saat di tengah barisan massa tadi, ia terlihat begitu vokal mendukung salah seorang, tapi kini ia hendak bergegas pulang.

“Engkau ini bagaimana? Tuhan itu kami,” sang musafir terperanga sambil memandangi renta lusuh yang berbaur dengan kerumunan rakyat.
Sedangkan sang raksasa terus saja berkoar minta pengakuan.



*Penulis adalah penulis "Penulis Amatir." dan pemilik akun twitter: @_svcvx (Hak Asasi Tuhan)

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

Lelap di Kolong Jembatan

forum

Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta