Berita Terbaru:

Ketika Jerman Menguasai Eropa (Lagi)


Saya bukanlah orang yang tahu banyak tentang persepakbolaan Jerman. Beberapa teman saya yang penganut mazhab hipster football jauh lebih ahli dalam persepakbolaan Jerman. Namun ada sebuah hobi baru yang saya lakukan setiap malam dalam seminggu terakhir ini: yakni menonton rekaman pertandingan final Liga Champions yang dijuarai oleh tim-tim Jerman di youtube. Mulai dari final tahun 1974 yang dimenangkan oleh Bayern Muenchen, yang juga kemudian memborong trofi dua kejuaraan berikutnya. Sampai final tahun 2001 di San Siro yang pernah saya saksikan dulu di televisi.

Menjelang partai All-Germans Final nanti malam antara Borrusia Dortmund vs Bayern Muenchen, saya akan mencoba sedikit mengenang tiga final UCL terakhir yang pernah dijuarai oleh klub Jerman. Karena yang dibicarakan di sini hanya final yang pernah dimenangkan klub Jerman, maka tidak ada cerita tentang Eintracht Frankfurt, Borussia Mönchengladbach atau Bayer Leverkusen. Mohon maaf jika ada fans Bayer yang kecewa hehe…

UCL 1982-83: Hamburg vs Juventus

Di pertengahan tahun 70’an sampai awal 80’an, Hamburg menjadi salah satu kekuatan yang ditakuti di Eropa. Bersama Felix Magath mereka berhasil meraih trofi Bundesliga musim 1981-82. Trofi inilah yang kemudian membuat Hamburg berhak berlaga di Piala Champions Eropa, sampai akhirnya mereka berhasil mencapai partai final di Athena melawan Juventus.

Juventus yang di babak perempat final mengalahkan juara bertahan Aston Villa, difavoritkan dalam partai final ini. Skuad si Nyonya Tua diisi oleh para pahlawan yang membawa Italia menjuarai Piala Dunia 1982 seperti: Dino Zoff, Claudio Gentille, Antonio Cabrini, Gaetano Scirea, Marco Tardelli dan Paolo Rossi.
Hamburg yang dilatih oleh Ernst Happel berhasil membuka keunggulan lewat gol cantik Felix Magath. 

Juventus terus mencoba untuk membalikan kedudukan, namun Michel Platini yang terlalu banyak bermain di depan gagal untuk mencetak gol yang dibutuhkan. Skor 1-0 berhasil dipertahankan Hamburg sampai akhir pertandingan. Untuk pertama kalinya sejak 1976, trofi Piala Champions tidak jatuh ke tangan klub-klub Inggris.

Inilah trofi Piala Champions (kemudian menjadi Liga Champions) yang berhasil diraih Hamburg untuk pertama dan terakhir kalinya. Sebelumnya di tahun 1980 mereka hanya berhasil mencapai final namun kalah oleh Nottingham Forest.

UCL 1996-97: Dortmund vs Juventus

Mungkin ini adalah salah satu cerita paling manis yang dialami oleh sebuah tim underdog. Walaupun final digelar di negara asal Dortmund, yaitu Jerman, namun Juventus tetap diunggulkan dalam final ini. Juventus saat itu menjadi simbol dari kekuatan sepakbola Eropa.

Dortmund unggul lebih dahulu lewat gol dari Karl-Heinze Riedle di menit ke 29, memanfaatkan umpan dari Paul Lambert. Riedle kemudian menambah keunggulan Dortmund menjadi 2-0 lewat sundulannya pada menit ke 34.

Juventus terus mencoba mengambil inisiatif pertandingan. Alessandro Del Piero yang masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, sempat menghidupkan peluang Juventus untuk menjuarai pertandingan lewat gol back-heel nya di menit ke71.

Namun beberapa menit kemudian, Lars Ricken mematikan peluang Juve tersebut. Masuk sebagai pengganti di menit 70, ia langsung mencetak gol cantik 16 detik kemudian. Zinedine Zidane yang selama pertandingan ditempel ketat oleh Paul Lambert gagal untuk membawa Juventus menjuarai turnamen tersebut. Gelar yang berhasil diraih oleh Dortmund ini menjadi yang pertama kali diraih oleh klub Jerman semenjak Jerman Barat dan Timur bersatu.

UCL 2000-01: Bayern Muenchen vs Valencia

Dari tahun 1974 sampai 1976, Bayern Muenchen menguasai Eropa dengan berhasil menjuarai Piala Champions tiga kali berturut-turut. Namun setelah 1976, mereka tidak berhasil menggenapkan jumlah trofi mereka menjadi empat. Tiga kali berhasil masuk ke final, namun ketiga-tiganya gagal karena dihempaskan oleh Aston Villa, Porto dan Manchester United. 25 tahun berselang setelah 1976, kesempatan untuk menambah gelar itu datang lagi kala mereka berhasil melaju ke puncak Liga Champions melawan Valencia di San Siro, Milan.

Pertandingan ini kadang disebut “All Penalty Final”. Jelas saja karena semua gol dalam pertandingan ini berasal dari titik putih. Gaizka Mendieta membuka keunggulan bagi Valencia di menit ketiga setelah bola mengenai tangan Patrick Andersson di kotak terlarang. Beberapa menit kemudian, Bayern juga mendapat hadiah penalti setelah Jocelyn Angloma melanggar Stefan Effenberg. Namun eksekusi dari Mehmet Scholl berhasil dimentahkan oleh Santiago Canizares.

Di awal babak kedua, kembali Bayern mendapat hadiah penalti akibat handball dari Amedeo Carboni. Kali ini, Stefan Effenberg, - yang dari tampangnya lebih pantas jadi pegulat WWE-, berhasil melesakan bola ke jala Canizares dan membuat skor menjadi 1-1. Skor ini bertahan terus sampai waktu normal berakhir.

Babak extra time dilalui tanpa ada gol tambahan. Ini berarti jantung dari kedua fans akan disiksa melalui adu penalti. Penendang pertama Bayern, Pauolo Sergio gagal mengeksekusi bola, sementara penendang pertama Valencia, Mendieta berhasil. Namun tiga eksekutor Valencia yaitu: Zahovic, Carboni dan Pellegrino gagal melesakan bola ke gawang Oliver Kahn. Sementara dari Bayern berhasil semua kecuali Paulo Sergio dan Andersson. Ini berarti Bayern Muenchen berhasil memenangkan pertandingan dan menambah koleksi trofi tertinggi Eropanya menjadi empat.

Nanti malam, untuk pertama kalinya All Germans Final akan digelar di final Liga Champions. Wembley akan menjadi saksi apakah Bayern akan mengucapkan “We Won it Five Times” ataukah Dortmund menambah gelarnya menjadi dua.


Penulis: Reza Fajri
Twitter: @rezafajri

Kebenaran Tragedi 98 Masih Sebatas Penafsiran

Sebagaimana peristiwa lainnya, tragedi Mei 98  masih saja tetap berkabut mesti telah berjalan 15 tahun. Lantas apa yang membuat sejarah begitu sulit terungkap? Setiap ada yang berniat membukanya seakan dihadapkan pada kotak pandora (sebuah mitos Yunani) yang begitu terjaga kerahasiaannya.

Mungkinkah, lantaran ada pihak-pihak tertentu yang sengaja dibuat sedemikian, dengan tujuan-tujuan tertentu.  Jika benar demikian, maka tak mengheran jika sebuah peristiwa tak akan pernah bisa terungkap.

Padalah sudah ada beberapa tokoh yang telah menuliskan mengenai peristiwa Mei 98 sesungguhnya. Namun, dari ketiga tokoh baik mantan Presien RI, BJ Habibie dengan bukunya ‘Detik-detik yang Menentukan’, ketua Umum Hanura Wiranto, ‘Bersaksi Di Tengah Badai,’ dan Wakil Ketua Gerindar  Fadli Zon ‘The Politics of The May 1998 Riots' atau ‘Politik Huru Hara Mei 1998’.

Dari ketiga buku tersebut, menurut Pakar Hukum Tata Negara Jimly Asshiddiqie tak ada yang benar-benar objektiv, mana yang paling benar. “Buku tersebut hanyalah sudut pandang seorang penulis,” ujarnya dalam bedah buku ‘The Politics of The May 1998 Riots' atau ‘Politik Huru Hara Mei 1998’, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (21/5).

Maka, lanjutnya, mana yang paling bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya sangatlah sulit. Pasalnya, setiap penulis dalam menulis sebuah buku tak terlepas dari unsur subyektivitas. “Sulit untuk objektiv, mereka menulis tak lepas dari penafsiran atas peristiwa maka tak ada yang benar-benar absulut,” imbuhnya.

Fadli sendiri ikut mengometari buku yang ditulis BJ Habibie. Menuruntya, apa yang ditulis mantan Presiden RI itu masih banyak yang perlu dikoreksi. Pasalnya, buku tersebut masih jauh dengan kenyataan dan juga tersebut terlalu memojokan salah satu pihak.  

Untuk itu, ia pun memutuskan mencetak ulang bukunya dengan harapan generasi penerus bangsa tidak boleh membaca sejarah yang salah. Ia mengaku tak ingin peristiwa bersejarah ini dijadikan propaganda yang keliru. "Tujuan peluncuran dan diskusi buku ini adalah agar masyarakat tidak melupakan sejarah dan bisa menghindari distorsi," imbuhnya.

Pasalnya, kata dia, terlalu banyak diskursus huru-hara Mei 1998 sering dipolitisir dan digembar-gemborkan menjelang pemilu atau kontestasi politik. Maka, lanjutnya, tak jarang, tragedi ini menjadi komoditas politik.
Bahkan, lanjutnya,  fakta-fakta yang berkembang tak selalu didasarkan pada kejadian yang sesungguhnya. Pada arti tertentu ada upaya menjadikan tragedi ini sebagai kerusuhan rasial.

Fadli menolak jika buku yang ditulisnya merupakan bentuk pembelaan terhadap Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Namun, semuanya terserah kepada pembaca. “Jika ada yang menilai buku ini sebagai pembelaan terhadap Prabowo, itu semua terserah kepada pembaca,” imbuhnya.

Secara fakta, lanjutnya, terjadinya Tragedi Mei 1998 yang diikuti mundurnya Soeharto memang bukan tanggung jawab Prabowo sebagaimana yang selama ini ditudingkan, melainkan yang harus bertanggungjwab adalah Panglima Abri (Pangab), yakni Wiranto.

Ia menambahkan, posisi prabowo pada waktu itu merupakan Pangkontrad, yang hanya bertugas sebagai menyiapkan pasukan khusus. “Secara fakta Prabowo tidak bersalah,” imbuhnya.

Selain itu, terjadinya Tragedi Mei 1998 juga tak bisa dipisahkan dari rangkaian krisis moneter sejak Juli 1997 yang dimulai di Thailand dan menyebar ke beberapa negara lain di Asia termasuk Indonesia. Atas bantuan IMF, krisis moneter Indonesia berkembang menjadi krisis ekonomi dan melahirkan krisis politik. 
sementara terkait penculikan para aktivis, Fadli menegaskan hal itu sama sekali tak ada hubunganya dengan tragedi Mei.

Hadir pada diskusi Tragedi Mei 1998 ini Guru Besar/Pakar Hukum Tata Negara Jimly Asshiddiqie dan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan Indonesia Prof Salim Said.

@AyodyaKelana

Petisi Hentikan Hak Interpelasi DPRD Menurunkan Jokowi


Petisi untuk menghentikan hak interpelasi DPRD menurunkan gubernur DKI Jakarta Jokowi, ramai diperbincangkan di dunia maya. Petisi online yang mengatasnamakan  masyarakat peduli Jakarta tersebut diterbitkan Change.org.

Berikut isi petisi legkapnya

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, telah menunjukkan kemauan dan program-program kerja yang memihak ke masyarakat kecil sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kartu Jakarta Sehat (KJS) adalah salah satu contohnya. Hak interpelasi DPRD untuk mencopot Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta karena keluarnya 16 Rumah Sakit dari program KJS merupakan kepentingan yang tidak masuk akal dan dibuat-buat. Ini makin menunjukkan DPRD tidak memihak masyarakat, kurang kerjaan dan tidak memiliki visi kerakyatan.
Untuk itu, atas nama masyarakat peduli Jakarta meminta anggota-anggota DPRD DKI Jakarta untuk menghentikan interpelasi tersebut dan lebih memfokuskan diri memenuhi panggilan sebagai wakil rakyat dan membantu program-program Gubernur Joko Widodo dalam fungsi pelaksanaan dan pengawasan.
To:
DPRD DKI JAKARTA
Hentikan Hak Interpelasi DPRD Menurunkan Gubernur Jokowi

Sincerely,
[Your name]

Mahasiswa UIN Tolak Kenaikan BBM

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar aksi tolak kenaikan harga BBM. Menurut mereka, kebijakan ini akan semakin menyengsarakan rakyat.

Aktivis mahasiswa UIN Prayoza Saputra, menjelaskan rencan menaikan harga BBM merupakan kebijakan yang bertentangan dengan tujuan Negara. Karena, dampak kenaikan harga BBM akan berimbas langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok. “Kebijakan ini akan memberi dampak langsung kepada masyarakat miskin,” tegasnya, Rabu (22/5).

Selain itu, lanjutnya, kenaikan harga BBM malah akan meningkatkan angka kemiskinan. Hal ini tentunya merupakan bentuk penindasan yang nyata terhadap masyarakat. Sedangkan bantuan langsung masyarakat sementara (BLSM) sebagai kompensasi jelas tak akan menutupi kebutuhan pokok masyarakat.

Tak hanya itu, dampak kenaikan harga BBM hanya akan memperlebar jurang kesenjangan sosial. “Yang miskin tetap miskin sedangkan penguasa akan semakin gila dengan kekuasaanya,” imbuhnya.

Senada dengan Yoza, Ferdian Rahmandai, massa aksi lainnya menegaskan, kebijakan untuk menaikan harga BBM merupakan kebijakan yang menunjukkan ketidakadilan bagi masyarakat Indonesia. Ia menambahkan, setelah merajalelanya kemiskinan dan gagalnya pendidikan nasional, pemerintah masih saja menaikan harga BBM yang merugikan “Kenaikan BBM menjadi bukti betapa tidak adilnya Negara kepada masyarakat,” jelasnya.

Padahal, lanjutnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang mampu menghidupi masyarakat Indonesia. Namun, dari banyaknya kekayaan alam tersebut, hanya sedikit yang mampu dikelola Negara. Ketidakmampuan pemerintah untuk menglola kekayaan alam menunjukkan kegagalan pemerintahan SBY Boediono.

Dalam aksi yang dilakukan di depan kampus UIN Jakarta ini, mahasiswa sempat memblokir jalan sehingga semat terjadi aksi dorong antara mahasiswa dan polisi. Selain itu aksi juga membuat kemacetan sepanjang jalan Ir.H. Djuanda Ciputat.

 (Adit)

Anak Supir Angkot Sukses di Negeri Paman Sam

Iwan Setyawan, lelaki berperawakan kecil yang terlahir dari desa udik di pinggiran kota Malang dan juga anak dari supir angkot, membuat sebuah pengembaraan yang luar biasa hingga menjadi direktur sebuah perusahaan global di New York, Amerika Serikat.

Iwan, begitu panggilan akrabnya saat menghadiri acara Rosy Goes To Campus di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (18/5), berbagi cerita tentang kisah suksesnya.


Di depan ratusan mahasiswa, Iwan bercerita bagaimana perjalanannya  ke New York hanya untuk mewujudkan mimpi yang sangat sederhana, yakni memiliki kamar tidur sendiri di rumahnya. “Tahu enggak, saya kejar sampai ke New York karena ingin punya kamar sendiri,” cetus Iwan.


Iwan merasakan betul kehidupannya yang pas-pasan. Ia pernah mengalami masa ketika sepeda pun tak terbeli, sepatu yang ia pakai lebih jelek ketimbang teman-teman, dan hidup berdesak-desakan di rumah yang kecil  berukuran 6 x 7 meter. “Rumah itu ditempati tujuh orang, yaitu ayah-ibu, dan lima anak. Saya, anak ke-tiga dari lima bersaudara,” jelasnya.


Satu-satunya anak lelaki, dua kakak dan dua adik yang semuanya perempuan membuat Iwan berfikir keras bagaimana anak lelaki harus bisa membahagiakan saudara-saudaranya. Semua keterbatasan justru mendorong Iwan untuk maju. “Saya sangat keras belajar. Saya masih ingat, di kelas tiga SD saya sengaja belajar jam 03.00 pagi untuk mendapatkan suasana tenang,” ujar lelaki kelahiran 1974.


Abdul Hasim, Ayah Iwan adalah sosok pekerja keras yang tak kenal hari libur. Ia total menjadi sopir angkot dengan menghabiskan 40 tahun bekerja di jalanan dan Ngatinah ibunya, yang menjadi ibu rumah tangga hanyalah tamatan SD.“Bagi saya, ibu adalah sosok professional financial planner,” ungkapnya.


Bayangkan, kata Iwan, Ibu sanggup membagi sempurna satu telur dadar untuk anak-anaknya. Ibu sanggup memasak nasi untuk kebutuhan keluarga, tanpa sisa. Ibu bisa menyimpan tempe di tempat yang aman dari gangguan kakaknya yang hobi nyomot tempe. Ibu juga ahli menggadaikan barang untuk bayar SPP. Ibu juga pandai mengatur rumah mungil kami menjadi nyaman.Yang paling luar biasa menurut Iwan, Ibu bercita-cita agar semua anaknya bisa kuliah.


“Wah, Ibu tak tahu diri. Dari mana biayanya?,” cletuk Iwan diiringi dengan tawaan mahasiswa yang mendengakan kisahnya. Namun, lanjut Iwan, Ibu tak menyurutkan cita-citanya. “Tak ada jalan lain, lewat pendidikanlah hidup kami bisa berubah. Tentu kami jadi tambah semangat,”paparnya.


Akhirnya, lewat semangat itulah Iwan menebus perjalanan hidup yang muram dengan ketekunan belajar yang luar biasa. Ia tak kenal letih belajar di temani lampu petromaks yang kian redup. Ia meretas prestasi yang mengesankan saat SMA, hingga ia mendapat PMDK untuk kuliah di jurusan Statistik, IPB Bogor. Dari situlah, pelan-pelan tirai hidup Iwan mulai terbuka.


Selulus dari IPB, ia diterima bekerja di Nielsen Company, Jakarta sebuah perusahaan riset pemasaran global yang ternama. Lantaran prestasi kerjanya yang mencorong, ia kemudian ditugaskan untuk bekerja di kantor pusat Nielsen di New York. Selama 10 tahun ia berkelana di Manhattan, hingga menduduki posisi Director, Client Management Nielsen Global Co.


Dari kisah yang dinarasikan dengan indah oleh Iwan malam itu, kita bisa melihat betapa besar peran ibu dia dalam mendidik anak-anaknya yang semua kakak dan adiknya relatif sukses.


Mimpinya sewaktu kecil hanyalah ingin bekerja mencari uang agar bisa memiliki kamar tidur sendiri. Itu adalah obsesi terbesar dalam hidupnya. Namun, tidak disangka pencapaian pekerjaan Iwan sampai ke New York dan sempat menduduki jabatan bergengsi, yaitu sebagai Director Internal Client Management Data Analysis and Consulting Nielsen Consumer Research New York, AmerikaSerikat.


Inilah sebuah kisah tentang kegigihan, tentang impian yang tak sempat terucap, dan juga tentang makna ketekunan merajut nasib hidup.


Dari kisah tersebut, Iwan menuliskannya ke dalam sebuah novel yang berjudul “9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple”. Novel ini juga sudah difilmkan dengan judul yang sama. Ia juga sudah menelurkan novel keduanya yang berjudul Ibuk. Sebuah novel yang ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.

(Jong)

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 

Lelap di Kolong Jembatan

Ayo kirim tulisanmu ke : redaksi@angkringanmedia.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta | Tongkrongan Informasi - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta