Berita Terbaru:
Home » » Tantangan dari Masa Depan buat Ferguson

Tantangan dari Masa Depan buat Ferguson

Written By angkringanwarta.com on Saturday, March 10, 2012 | 22:32

Oleh Ahmad Makki*

Kamera berkali-kali menyorot kedua tangan Sir Alex Ferguson yang bertumpu di paha. Pelatih senior ini tak bisa menutupi gemetar di kedua tangannya yang berkali-kali dikepalkan. Orang-orang bersepekulasi. Barangkali pelatih ini geram melihat anak buahnya dipecundangi Barcelona di Final Liga Champion 2011. Atau mungkin ia telah melihat hari-hari akhirnya dalam dunia sepakbola. Tapi setelah pertandingan semuanya menjadi jelas.

“Hari ini Barcelona telah menetapkan standar. Mereka jauh lebih baik,” ucap Fergie di arena konferensi pers, “tapi kami akan kembali untuk menantang mereka di level yang sepadan,” tambahnya. Orang tentu paham ini bukan omong kosong. Berkali-kali Fergie mengalami kemunduran dalam 25 tahun kepemimpinannya di Manchester United, tapi sesering itu pula ia membuat timnya kembali kompetitif.

Apa yang membuat Fergie bertahan selama itu adalah adaptabilitas. Taktik sepakbola terus berevolusi dari waktu ke waktu. Para pelatih hebat satu-persatu memudar kejayaannya lantaran tak sanggup lagi mengikuti perkembangan. Tapi Fergie tetap bertahan di level tertinggi. Praktis ia merupakan pelatih tertua -dan sendirian- yang masih sanggup bersaing di kontes sepakbola level elit.

Barangkali publik sepakbola dengan sederhana bisa mengatakan bahwa formasi 4-4-2 adalah skema favorit Fergie. Tapi faktanya beberapa tahun belakangan ia tak pernah lagi konsisten memakai skema tersebut. 4-5-1, 4-4-1-1, 4-2-3-1-, bahkan 4-3-3-0, bergantian diterapkannya dari tahun ke tahun.

SEPANJANG SEPEREMPAT abad rezim Fergie di MU, tentu tim ini telah berkali-kali mengalami kekalahan. Namun beberapa kekalahan punya arti berbeda, di mana Fergie memutuskan sebuah generasi sudah mandek, dan perubahan tim dibutuhkan utuk kembali meningkatkan level permainan. Dalam hal ini, kekalahan kandang 2-3 MU dari Athletic Bilbao pada leg pertama 16 besar Piala UEFA, barangkali punya arti serupa.

Di luar terancamnya peluang MU merebut gelar Eropa musim ini, yang lebih penting adalah fakta kembali gagalnya Fergie menghadapi tim yang memainkan sistem lentur dan pressing tinggi, taktik yang lahir dari perkawinan organisasi total football dan kegilaan sepakbola ala Amerika Latin.

Athletico Bilbao secara tradisional sebetulnya dikenal sebagai klub Spanyol “paling Inggris”. Faktor geografis membuat mereka secara fisik dianugerahi tubuh tinggi dan stamina kuat. Karenanya sepakbola ala Inggris yang mengandalkan operan panjang di udara demikian akrab dengan tim ini. Kedatangan pelatih Marcelo Bielsa di awal musim langsung membalik semua stereotipe ini.

Dalam waktu singkat Bielsa sukses mengganti gaya bola panjang menjadi operan pendek untuk mendominasi penguasaan bola. Pressing ketat dengan menaikkan bek sampai ke garis tengah, serta kelenturan pergerakan pemain mendadak jadi ciri khas Bilbao musim ini. Demi dinamisasi tim, Javi Martinez yang kerap digadang-gadang sebagai pengganti Xavi ia sulap menjadi bek tengah, sekaligus deep lying playmaker. Hasilnya, Bilbao yang biasa berkutat di papan tengah ke bawah kini menjejak posisi ke-5 Liga Spanyol.

Bilbao memang belum bisa mengejar Barcelona. Tim Catalan ini boleh dibilang yang paling sempurna dalam hal mempraktikkan taktik menyerang yang lentur. Namun jika melihat inferiornya bakat yang dimiliki Bilbao dibandingkan Barca, Bielsa patut mendapat banyak acungan jempol. Jangan lupakan pula betapa terbatasnya pilihan Bielsa di Bilbao, mengingat kebijaksanaan klub ini yang hanya membolehkan memakai pemain berdarah Basque.

Pep Guardiola, yang saat ini dianggap pelatih terbaik dunia, tak pernah menyembunyikan fakta ia berguru pada Bielsa. Sehabis pensiun sebagai pemain, Pep berkunjung ke Amerika Latin untuk menemuinya, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan filosofi yang kemudian ia terapkan di tim junior Barca, serta Barca senior saat ini. Hasilnya, Barca mendominasi Eropa dan dua kali melikuidasi Manchester United di Final Liga Champion.

KEKALAHAN MU dari Bilbao hari Kamis lalu sebetulnya terlihat ironis buat Fergie. Musim 2008/2009 pelatih MU inilah yang mengenalkan kembali taktik menyerang dengan pergerakan pemain yang lentur di level elit Eropa. Ketika itu MU memainkan formasi unik 4-3-3-0, tanpa seorang pun penyerang murni. Rooney-Tevez-Ronaldo secara dinamis bergantian mengisi posisi depan saat tim menyerang. Hasilnya adalah trofi Liga Inggris dan Liga Champion.

Musim berikutnya giliran Pep Guardiola yang menerapkannya di Barcelona. Leo Messi dan Yaya Toure menjadi kunci lenturnya pergerakan pemain Barca. Ironisnya, MU yang lebih dulu memakai filosofi ini malah kembali bermain lebih konservatif, dan dikalahkan Barca di Final Champion. Sejak itu filosofi Barca kian mewabah dalam perkembangan taktik sepakbola. dan bagi Fergie, sejak itu pula ia gagal menghadapi tim yang memainkan taktik serupa.

Karena itulah kekalahan MU atas Bilbao akan menjadi ujian berikutnya buat kemampuan Fergie dalam beradaptasi dengan perkembangan taktik sepakbola. Bukan soal mampukah ia membalikkan ketinggalan 2-3 di San Mames, tapi soal kemampuannya membangun tim yang tetap kompetitif dengan evolusi taktik di musim-musim berikutnya.

Sepanjang 25 tahun Fergie berkali-kali mampu lolos dari hukum kesementaraan waktu. Bagaimana satu, dua, atau tiga musim ke depan?


*Penulis adalah penulis kolom bola angkringanwarta



Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Anonymous
March 15, 2012 at 2:31 PM

pencerahan yang menakjubkan..,!!tajam dan akurat...

Post a Comment

Masukkan email untuk berlangganan:

Delivered by Angkringanwarta

 
Ayo kirim tulisanmu ke : angkringan123@gmail.com
Copyright © 2012. AngkringanWarta - All Rights Reserved
Powered by Angkringanwarta